Tulisan ini dipersembahkan Kak Lily buat Bundanya (Ibu)
Kak Lily marah sama Ibu karena dilarang nonton tivi sampai malem, trus karena kesel akhirnya ngegodain de’ Kayla yang lagi bobo.
Saat itu Ibu yang lagi asyik nulis, gak mikir kalau Kak Lily yang juga nulis disamping Ibu menuliskan kata-kata seperti diatas. Ketahuannya kemarin pagi harinya, waktu Ibu beres-beres kamar.
Duh anakku, maafkan Ibu yah nak. Ibu jadi speechless
February 28, 2006 at 5:04 am (Uncategorized)
February 28, 2006 at 5:04 am (Uncategorized)
Tulisan ini dipersembahkan Kak Lily buat Bundanya (Ibu)
Kak Lily marah sama Ibu karena dilarang nonton tivi sampai malem, trus karena kesel akhirnya ngegodain de’ Kayla yang lagi bobo.
Saat itu Ibu yang lagi asyik nulis, gak mikir kalau Kak Lily yang juga nulis disamping Ibu menuliskan kata-kata seperti diatas. Ketahuannya kemarin pagi harinya, waktu Ibu beres-beres kamar.
Duh anakku, maafkan Ibu yah nak. Ibu jadi speechless
February 24, 2006 at 9:08 am (Uncategorized)
Sibuk dan Flu Burung
Halo dunia, apa kabar ? Tukang kebunnya lagi sibuk sama tugas negara (sehubungan sama audisi2 itu lho) dan sebagai prajurit harus melaksanakan perintah panglima. Dari pada ter-update ada artikel bagus nih dari dr Widodo Judarwanto, sehubungan dengan flu burung yang lagi marak. Silahkan dibaca-dibaca
February 24, 2006 at 9:08 am (Uncategorized)
Sibuk dan Flu Burung
Halo dunia, apa kabar ? Tukang kebunnya lagi sibuk sama tugas negara (sehubungan sama audisi2 itu lho) dan sebagai prajurit harus melaksanakan perintah panglima. Dari pada ter-update ada artikel bagus nih dari dr Widodo Judarwanto, sehubungan dengan flu burung yang lagi marak. Silahkan dibaca-dibaca
February 20, 2006 at 11:58 pm (Uncategorized)

Lil Supergirl
Assamu’alaikum, hello dunia, gimana nih kabarnya
Lagi bingung mau cerita apa, akhirnya kepikiran buat cerita tentang kesukaan Kak Lily.
Seluruh anggota keluarga, mulai dari Ayah Ibu, mbak-mbak dirumah, Ompung Doli, Ompung Guru, Embah di Yogya, keluarga di Yogyakarta, Klaten, dan Jakarta, tau sekali kalau Kak Lily suka sama yang namanya Superman…he…he…
Kesukaannya ini bukan tanpa alasan, yaitu sejak kecil udah dicekok-in sama Ayah nonton VCD Superman punya Ayah, yang juga doyan sama tokoh Superman. Jadi kata orang like father like daughter. Dari umur satu tahun Kak Lily sudah nonton VCD Superman dan sekarang bisa dibilang tiap VCD Superman, Kak Lily hapal jalan ceritanya. Oh yah, selain VCD Superman, ayah juga punya VCD Supergirl dan Smallville, yang juga dibabat abis sama Kak Lily.
Saking senengnya sama Superman, Kak Lily punya baju Superman versi perempuan tentunya…he…he… punya mug Superman, boneka-boneka Superman, yang dibeli dengan cara pemaksaan (yang tentunya dengan dukungan Ayah). Nah, bajunya ini sampai sekarang masih tetep dipakai sama Kak Lily (padahal belinya dari tahun 2001). Dari kepanjangan sampai udah lumayan pendek diatas dengkul. Sekarang sih lumayan, kalau inget aja dipakai, kalau dulu sampai ada istilah ringke (kering pake — abis dicuci, kering trus dipake…he…he…)
Trus, pernah cita-cita jadi Supergirl segala lho. Ayah sih seneng-seneng aja, katanya lumayan ada yang nerusin hobbynya. Ibu aja yang ketar ketir, takut anak cantiknya jadi kayak cowo…he….he…
Yang ngeselin juga nih, kalau lihat apa-apa yang berbau Superman, pasti Kak Lily langsung melotot matanya dan nangis minta beli. Yang ada Ibu tinggal ngerundel sebel. Oh yah selain itu Kak Lily juga seneng sama boneka barbie, cuma gak seheboh Superman. Ayuh donk teman-teman ada yang punya hobby kayak Kak Lily gak, kasih sarannya donk sama Ibu biar gak kesel ngadepin hobbynya Kak Lily.
February 20, 2006 at 11:58 pm (Uncategorized)

Lil Supergirl
Assamu’alaikum, hello dunia, gimana nih kabarnya
Lagi bingung mau cerita apa, akhirnya kepikiran buat cerita tentang kesukaan Kak Lily.
Seluruh anggota keluarga, mulai dari Ayah Ibu, mbak-mbak dirumah, Ompung Doli, Ompung Guru, Embah di Yogya, keluarga di Yogyakarta, Klaten, dan Jakarta, tau sekali kalau Kak Lily suka sama yang namanya Superman…he…he…
Kesukaannya ini bukan tanpa alasan, yaitu sejak kecil udah dicekok-in sama Ayah nonton VCD Superman punya Ayah, yang juga doyan sama tokoh Superman. Jadi kata orang like father like daughter. Dari umur satu tahun Kak Lily sudah nonton VCD Superman dan sekarang bisa dibilang tiap VCD Superman, Kak Lily hapal jalan ceritanya. Oh yah, selain VCD Superman, ayah juga punya VCD Supergirl dan Smallville, yang juga dibabat abis sama Kak Lily.
Saking senengnya sama Superman, Kak Lily punya baju Superman versi perempuan tentunya…he…he… punya mug Superman, boneka-boneka Superman, yang dibeli dengan cara pemaksaan (yang tentunya dengan dukungan Ayah). Nah, bajunya ini sampai sekarang masih tetep dipakai sama Kak Lily (padahal belinya dari tahun 2001). Dari kepanjangan sampai udah lumayan pendek diatas dengkul. Sekarang sih lumayan, kalau inget aja dipakai, kalau dulu sampai ada istilah ringke (kering pake — abis dicuci, kering trus dipake…he…he…)
Trus, pernah cita-cita jadi Supergirl segala lho. Ayah sih seneng-seneng aja, katanya lumayan ada yang nerusin hobbynya. Ibu aja yang ketar ketir, takut anak cantiknya jadi kayak cowo…he….he…
Yang ngeselin juga nih, kalau lihat apa-apa yang berbau Superman, pasti Kak Lily langsung melotot matanya dan nangis minta beli. Yang ada Ibu tinggal ngerundel sebel. Oh yah selain itu Kak Lily juga seneng sama boneka barbie, cuma gak seheboh Superman. Ayuh donk teman-teman ada yang punya hobby kayak Kak Lily gak, kasih sarannya donk sama Ibu biar gak kesel ngadepin hobbynya Kak Lily.
February 19, 2006 at 2:58 am (Uncategorized)
Met Ultah Ayah !
Senyum, tawa dan candamu sejuk’kan hati
Sinar matamu pancarkan kedamaian
Pelukan eratmu berikan rasa tentram
Meski lelah kerap menghampirimu,
kau tak pernah lelah bekerja
demi kesejahteraan dan masa depan kami
Di hari ini, usiamu bertambah
hanya doa untuk keselamatan, kesehatan, dan kemudahan
yang dapat kami panjatkan
Agar kau selalu bersama kami
selamanya hingga waktunya tiba.
p.s. selamat ulang tahun ayah, selamat ulang bulan dik Kayla.
February 16, 2006 at 9:57 am (Uncategorized)
Hurray…Aku Bisa Jalan
Assamu’alaikum. Mau cerita sedikit tentang dik Kayla. Setelah beberapa bulan berlatih, jatuh bangun dan membuat 2 benjolan biru di jidat, akhirnya di usia dik Kayla yang 13 bulan, sudah lancar berjalan
Sudah wara wiri ke kamar, ke dapur, halaman dan ruang depan. Yang bikin ngeri, karena merasa sudah kokoh berdirinya, dik Kayla suka jejingkrakan dan jalan-jalan diatas tempat tidur dan kursi tamu.
Dek Kayla baru lancar berjalan diusianya yang ke-13 bulan. Sebenarnya sejak umur 11 bulan, dek Kayla sudah belajar berjalan. Tetapi yah itu, kata Ibu sih, dek Kayla masih takut-takut dan juga males…he…he… Baru berjalan satu langkah, eh sudah merangkak. Atau kalau ngak rembetan deh, di kursi, meja atau rembetan di dinding.
Tapi biar belum lancar berjalan, dek Kayla paling doyan keluar rumah. Kalau liat pintu terbuka sedikit, pasti udah ngajak Ibu, Ayah atau Mbak Iyah, keluar rumah. Nah kalau sudah begitu, biar pegangan satu jari aja, dek Kayla lancar jalannya…he…he..
Sebenarnya buat Ayah dan Ibu, dek Kayla belum lancar berjalan gak apa-apa, toh setiap memiliki keistimewaan masing-masing. Memang sih kalau Kak Lily, umur 11 bulan sudah lancar berjalan dan berbicara. Tapi yang bikin geregetan tuh, malah tetangga dirumah. Maklum deh tinggal di kompleks yang gak elite
Tetangga-tetangga tuh suka ngebanding-banding dek Kayla dengan Kak Lily. Gak hanya itu, malah pernah nyaranin hal-hal yang aneh supaya dek Kayla lancar jalannya. Ada yang kasih saran supaya kaki dek Kayla dipukulin belut (kata Ayah mending belutnya digoreng trus dimakan..he…he..), ada yang nyaranin supaya tiap hari Jumat, dengkul dek Kayla dipukul pakai sendok sayur….(amit…amit…tok..tok deh), malah ada yang bilang Ibunya sih
suka nyium-nyium telapak kaki anaknya, jadi anaknya gak cepat jalan…Masya Allah.
Ibu sih sempet sebel juga, tapi yah mau diapain lagi orang kan bebas mengeluarkan pendapatnya. Toh akhirnya dek Kayla bisa lancar berjalan juga. Malah sekarang Ibu suka khawatir, karena sejak lancar berjalan dek Kayla udah ngintip-ngintip kapan pintu terbuka dengan lebar, supaya dia bisa keluar… mau kerumah tetangga sendiri kayaknya…ha….ha…
Nah terakhir nih, namanya manusia yang selalu merasa ingin lebih, sekarang Ayah, Ibu dan Kak Lily, sedang harap-harap cemas nunggu dek Kayla lancar bicara
Lancar bicara diluar kata-kata yang sudah dihapal tentunya seperti mama, papa, tata (kakak maksudnya…), mimi, maam, ayah (yang kadang-kadang saru sama Iyah), uwa, dan ndak (maksudnya tidak).
February 14, 2006 at 11:11 am (Uncategorized)
Berburu Sekolah
Assamu’alaikum Wr.Wb, apa kabar semua ? Hampir sebulan ini Ibu, Ayah dan Kak Lily, sibuk dengan perburuan mencari Sekolah Dasar (SD), karena Insya Allah Kak Lily bakal masuk kelas 1 SD pada bulan Juli nanti.
Ternyata…oh ternyata…cari sekolah itu susah-susah gampang yah. Susah karena kita harus tahu sekolah itu mutunya bagaimana, fasilitasnya apa saja, jauh dekatnya dari rumah, guru-gurunya bagaimana, lingkungan sekolahnya, dan yang paling musti dipikirkan secara matang adalah biayanya berapa ? Mahal atau tidak ? Nah yang gampang adalah mendapatkan formulir pendaftarannya…he….he….
Sebenarnya di milis-milis yang ibu ikuti sudah sering dibahas kiat-kiat mencari sekolah untuk anak, tetapi begitu ngalamin sendiri, tidak semudah yang dibayangkan.
Untuk sekolah Kak Lily, Ayah dan Ibu sepakat untuk mencari sekolah yang Kak Lily benar-benar senangi, karena itulah selama perburuan Kak Lily selalu dibawa. Karena kita tinggalnya di Bekasi Utara, maka alternatif pilihan sekolah adalah yang berada di daerah Bekasi Utara (seputaran Harapan Indah sampai Harapan Baru aja), karena kalau sampai ke Bekasi Barat, Bekasi Selatan, dll, terlalu jauh dan lebih baik ke Jakarta Timur atau daerah-daerah dekat kantor Ayah dan Ibu, yaitu daerah Menteng.
Daerah Jakarta Timur dan Menteng dipilih karena Ayah dan Ibu ada rencana kalau dek Kayla udah berumur 3 tahun, gak mau pakai PRT lagi. (Makan hati….he….he…) Jadi nanti Kak Lily dan dek Kayla akan dititipkan dirumah Ompung Doli, baru pulang kerumah malam harinya. Susah sih, tapi yah begitu, mau gak mau.
Perburuan pertama adalah SD Bani Saleh 3, yang kebetulan satu atap (Yayasan) dengan TKnya Kak Lily. Tapi ini kayaknya bakalan gak masuk hitungan deh, secara kata ibu-ibu temannya Kak Lily, terlalu sering mengeluarkan uang dan orang tuanya harus rajin-rajin sambangi sekolahan untuk mengetahui pelajaran
Nah yang kedua adalah SD Galatia di Harapan Indah, sekolahnya lumayan bagus dan mutunya juga bagus. Cuma yang perlu dipikirkan adalah uang pangkalnya diatas Rp 10 juta…hiats….hiats *gubrakpingsan*
Selanjutnya SDI Al-Azhar Pondok Kopi, didekat kantor Walikota Jakarta Timur. Hampir sama dengan sekolah Galatia. Uang pangkalnya bikin gubrak
Akhirnya Ibu dan Ayah putar haluan mencari SD Negeri. Untuk pertama SD Negeri Percontohan yang kata teman-teman ibu di milis, sekolahnya bagus, mutu bagus, dan biayanya relatif murah. Rencananya, Ayah dan Ibu akan menyambangi SD Negeri Percontohan di Rawamangun dan SD Besuki di Menteng. Doain yah semoga, sekolah-sekolah tersebut sesuai harapan.
February 10, 2006 at 8:27 pm (Uncategorized)
Anakmu Bukan Milikmu
Assamu’alaikum, apa kabar dunia ? Pada awal tahun 2006, kasus kekerasan pada anak terus terjadi. Yang mengenaskan, pelakunya adalah orang tua kandung dari anak yang mengalami child abuse. Tulisan ini sebenarnya sudah lama ingin Ibu posting disini, tapi karena keburu dapat tugas dari kantor, akhirnya dibikin buat kantor dulu deh.
Isi tulisannya seperti ini :
Diawal tahun 2006 ini, banyak media massa memberitakan tentang kasus-kasus perlakuan kasar, penyalahgunaan atau pelecehan (child abuse) terhadap anak-anak.
Pertama kasus yang menimpa gadis kecil berumur 7 tahun yang bernama Eka Suryana, yang dibunuh oleh ibu tirinya namun sebelumnya Eka diperkosa oleh paman tirinya. Alasan ibu tirinya membunuh Eka karena balita perempuan tersebut selalu rewel.
Kedua peristiwa pembakaran 2 orang balita yang awalnya diduga dilakukan oleh ayah kandungnya karena mabok, ternyata dilakukan sendiri oleh sang ibu, yang kesal terhadap tingkah laku ayah kedua bocah itu.
Indah, gadis kecil berusia 3 tahun bersama dengan adiknya Lintang yang baru berusia 11 bulan terpaksa merasakan perihnya luka bakar akibat pembakaran yang dilakukan ibunya. Luka bakar yang dialami Indah lebih parah tinimbang yang diderita adiknya Lintang. Indah mengalami luka bakar pada kepala, wajah dan lengan kirinya. Naasnya, mata kiri Indah kemungkinan tidak akan bisa melihat lagi karena kelopak matanya pun ikut terbakar. Dan tragisnya Indah Novianti akhirnya meninggal dunia pada Senin, 9 Januari 2006.
Pada 10 Januari, Siti Ihtiayatus Soleha, bocah 8 tahun dianiaya ayahnya sendiri dengan cara disetrika. Siti hingga kini belum mampu berjalan dan terpaksa harus digendong sang ibu, Kurniasih.
Penganiayaan Siti dipicu adanya temuan uang 100 ribu rupiah di lemari baju Siti. Karena tidak mengaku saat ditanya, tersangka M Johandi, ayahnya sendiri lalu menyetrika tubuh kecil Siti dengan setrikaan. Menurut Johandi, ia tega melakukan penganiayaan untuk mengajarkan anaknya untuk patuh. Namun karena tidak mau mengaku, emosinya menjadi memuncak.
Sebelum kasus Indah, Eka, dan Siti merebak, pada 22 Desember 2005 ada kasus kematian Soni Suharsono yang dicurigai tidak wajar. Sony yang meninggal dunia di RS Persahabatan, awalnya dikira karena menderita sakit pernafasan. Namun menurut ibu kandung Soni, anak ketiganya itu meninggal dunia karena penganiayaan yang dilakukan oleh ibu tiri dan ayah kandungnya. Soni memang tinggal bersama dengan ibu tirinya, karena orang tuanya bercerai.
Nasib tak kalah tragis dialami gadis kecil berusia 4 tahun, Riva. Hingga sekarang kematian Riva yang janggal di sebuah hotel di bilangan Bungur, Senen, Jakarta Pusat, pada Selasa, 20 Desember 2005 belum menemukan titik terang, karena ibunya yang membawa Riva ke Jakarta menghilang bersama laki-laki, yang mengantarkan mereka ke Jakarta untuk mengambil uang hasil kerja ayah Riva, yang menjadi TKI di Malaysia. Saat meninggal dunia, kondisi Riva sangat mengenaskan. Dari mulutnya keluar busa dan ada luka memar di bagian leher.
Betapa tragis yang dialami mereka dan bisa dikatakan anak tersebut menjadi korban dari masalah yang dialami orang tuanya. Anak tak pernah meminta untuk dilahirkan. Anak tak bisa memilih dari rahim mana ia dilahirkan. Anak tak bisa menentukan orang tua seperti apa yang akan ia miliki.
Semua itu bisa dikatakan adalah konspirasi orang tua, yang atas nama perkawinan dan ingin melengkapi kebahagiaan perkawinan dengan mempunyai keturunan atau anak. Bagi sebagian besar orang, jika tidak mempunyai anak, perkawinan mereka akan dicemooh.
Tapi apa jadinya, jika anak-anak harus menderita ? Apalagi jika anak-anak tersebut dilahirkan dari orang tua yang kehidupan ekonominya tidak memadai, berkekurangan alias miskin ? Bisa jadi anak merupakan beban bagi mereka. Bisa jadi anak menjadi obyek pelampiasan dari ketidak berdayaan orang tua, yang tidak mampu mengatasi kesulitan hidup.
Menurut Ketua Komisi Nasional Anak Seto Mulyadi, kekerasan pada anak mestinya tak pernah terjadi bila mereka diposisikan sebagai subjek, bukan objek. “Orang tua selalu memandang anak sebagai hak miliknya. Yang sekehendak hatinya bisa diperlakukan. Yang masa depannya adalah orang tua yang menentukan”, kata pria yang akrab dipanggil Kak Seto ini.
Selama tahun 2005, Komnas Perlindungan Anak mencatat terjadinya 688 kasus kekerasan pada anak, 381 meliputi kekerasan fisik dan psikologis. Dan 80 persen pelaku kekerasan adalah ibu kandung korban.
Sementara itu menurut Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan (Meneg PP) Meutia Hatta, sebagian besar anak-anak di Indonesia masih kurang terlindungi. Padahal, mereka berhak untuk hidup, tumbuh dan berkembang serta terlindung dari tindak kekerasan dan diskriminasi, serta mengeluarkan pendapat dan didengar suaranya.
Menurut Meutia, anak-anak Indonesia di 16 provinsi mengalami kekerasan di seluruh tubuhnya, yakni kepala, leher, kaki, tangan, kuku hingga ke ujung kaki. Dan yang melakukan kekerasan itu mulai dari orang tua kandung, orang tua tiri, guru, kakak seputu, paman, satpam, polisi, sopir angkot dan orang-orang di jalan.
“Jadi dimana tempat yang aman bagi anak untuk berlindung dan kepada siapa mereka berlindung. Jadi salah siapa? Perlindungan anak itu bukan sesuatu yang main-main. Kita harus serius memperhatikan perlindungan anak itu,” tandas Meutia.
Dalam Pasal 15 Undang-undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Kekerasan dalam Rumah Tangga disebutkan, setiap orang yang mengetahui dan mendengar kekerasan terhadap anak wajib melaporkan sebatas kemampuannya untuk mencegah kelanjutan terjadinya kekerasan, melindungi korban, dan memberikan pertolongan darurat serta meminta penetapan perlindungan terhadap korban.
Namun entah kenapa, banyak orang yang belum melakukannya. Mungkin karena dipicu perasaan tidak ingin mencampuri urusan rumah tangga orang lain atau diancam oleh para pelaku. Untuk itu, Kak Seto berharap, masyarakat tak ragu-ragu melaporkan bila mereka mengetahui adanya tindak kekerasan terhadap anak melalui PO BOX 13.000 JAKUT.
Selain itu, efektivitas pelaksanaan Pasal 26 Undang Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak perlu ditingkatkan yang mana jika orang tua tidak dapat melaksanakan kewajiban mengasuh, memelihara, dan melindungi anak, maka tindak pengawasan dan pencabutan kuasa asuh harus dilakukan untuk kepentingan terbaik anak.(Idh)
